10 Agu 2012

Malam Lailatul Qadr


LAYLAT AL-QADR
Prof. Dr. M. Quraish Shihab

Surah Al-Qadr adalah surah ke-97 menurut urutannya didalam Mushaf. Ia ditempatkan sesudah surah Iqra'. Para ulama Al-Quran menyatakan bahwa ia turun jauh sesudah turunnya surah Iqra'. Bahkan, sebagian diantara mereka, menyatakan bahwa surah Al-Qadr turun setelah
Nabi Muhammad saw. berhijrah ke Madinah.

Penempatan dan perurutan surah dalam Al-Quran dilakukan langsung atas perintah Allah SWT, dan dari perurutannya ditemukan keserasian-keserasian yang mengagumkan.

Kalau dalam surah Iqra', Nabi saw. diperintahkan (demikian pula kaum Muslim) untuk membaca dan yang dibaca itu antara lain adalah Al-Quran, maka wajarlah jika surah sesudahnya --yakni surah Al-Qadr ini--berbicara tentang turunnya Al-Quran dan kemuliaan malam yang terpilih sebagai malam Nuzul Al-Qur'an (turunnya Al-Quran).

Bulan Ramadhan memiliki sekian banyak keistimewaan. Salah satu di antaranya adalah Laylat Al-Qadr -- satu malam yang oleh Al-Quran dinamai "lebih baik daripada seribu bulan".

Tetapi, apa dan bagaimana malam itu? Apakah ia terjadi sekali saja yakni pada malam ketika turunnya Al-Quran lima belas abad yang lalu atau terjadi setiap bulan Ramadhan sepanjang sejarah? Bagaimana kedatangannya, apakah setiap orang yang menantinya pasti akan mendapatkannya? Benarkah ada tanda-tanda fisik material yang menyertai kehadirannya (seperti membekunya air, heningnya malam dan menunduknya pepohonan, dan sebagainya)? Masih
banyak lagi pertanyaan yang dapat dan sering muncul berkaitan dengan malam Al-Qadr itu.

Yang pasti, dan ini harus diimani oleh setiap Muslim berdasarkan pernyataan Al-Quran, bahwa "Ada suatu malam yang bernama Laylat Al-Qadr" (QS 97:1) dan bahwa malam itu adalah "malam yang penuh berkah di mana dijelaskan atau ditetapkan segala urusan besar dengan penuh kebijaksanaan" (QS 44:3).

Malam tersebut terjadi pada bulan Ramadhan, karena Kitab Suci menginformasikan bahwa ia diturunkan oleh Allah pada bulan Ramadhan (QS 2:185) serta pada malam Al-Qadr (QS
97:1). Malam tersebut adalah malam mulia, tidak mudah diketahui betapa besar kemuliaannya. Ini diisyaratkan oleh adanya "pertanyaan" dalam bentuk pengagungan, yaitu Wa ma adraka ma laylat Al-Qadr.

Tiga belas kali kalimat ma adraka terulang dalam Al-Quran. Sepuluh di antaranya mempertanyakan tentang kehebatan yang terkait dengan hari kemudian, seperti Ma adraka ma Yawm Al-Fashl, ... Al-Haqqah ..'illiyyun, dan sebagainya. Kesemuanya itu merupakan hal yang tidak mudah dijangkau oleh akal pikiran manusia, kalau enggan berkata mustahil dijangkaunya. Dari ketiga belas kali ma adraka itu terdapat tiga kali yang mengatakan: Ma adraka ma al-thariq, Ma adraka ma al-aqabah, dan Ma adraka ma laylat al-qadr.

Kalau dilihat pemakaian Al-Quran tentang hal-hal yang menjadi objek pertanyaan, maka kesemuanya adalah hal-hal yang sangat hebat dan sulit dijangkau hakikatnya secara sempurna oleh akal pikiran manusia.Hal ini tentunya termasuk Laylat Al-Qadr yang menjadi pokok bahasan kita, kali ini.

Walaupun demikian, sementara ulama membedakan antara pertanyaan ma adraka dan ma yudrika yang juga digunakan oleh Al-Quran dalam tiga ayat.

Wa ma yudrika la 'alla al-sa'ata takunu qariba (Al-Ahzab: 63)
Wa ma yudrika la'alla al-sa'ata qarib ... (Al-Syura:17)
Wa ma yudrika la allahu yazzakka (Abasa: 3).

Dua hal yang dipertanyakan dengan wa ma yudrika adalah pertama menyangkut waktu kedatangan hari kiamat dan kedua apa yang berkaitan dengan kesucian jiwa manusia.

Secara gamblang, Al-Quran --demikian pula Al-Sunnah-- menyatakan bahwa Nabi saw. tidak mengetahui kapan datangnya hari kiamat, dan tidak pula mengetahui tentang yang gaib. Ini berarti bahwa ma yudrika digunakan oleh Al-Quran untuk hal-hal yang tidak mungkin diketahui walaupun oleh Nabi saw. sendiri. Sedangkan wa ma adraka, walaupun berupa pertanyaan,
namun pada akhirnya Allah SWT menyampaikannya kepada Nabi saw., sehingga informasi lanjutan dapat diperoleh dari beliau.

Itu semua berarti bahwa persoalan Laylat Al-Qadr harus dirujuk kepada Al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw., karena di sanalah dapat diperoleh informasinya.

Kembali kepada pertanyaan semula, bagaimana tentang malam itu? Apa arti malam Al-Qadr dan mengapa malam itu dinamai demikian? Di sini ditemukan berbagai jawaban.

Kata qadr sendiri paling tidak digunakan untuk tiga arti:

Penetapan dan pengaturan sehingga Laylat Al-Qadr dipahami sebagai malam penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia. Pendapat ini dikuatkan oleh penganutnya dengan firman Allah pada surah 44:3 yang disebut di atas. Ada ulama yang memahami penetapan itu dalam batas setahun. Al-Quran yang turun pada malam Laylat Al-Qadr diartikan bahwa pada malam itu Allah SWT
mengatur dan menetapkan khiththah dan strategi bagi Nabi-Nya, Muhammad saw., guna mengajak manusia kepada agama yang benar yang pada akhirnya akan menetapkan perjalanan sejarah umat manusia, baik sebagai individu maupun kelompok.

Kemuliaan. Malam tersebut adalah malam mulia yang tiada bandingnya. Ia mulia karena terpilih sebagai malam turunnya Al-Quran serta karena ia menjadi titik tolak dari segala kemuliaan yang dapat diraih. Kata qadr yang berarti mulia ditemukan dalam ayat ke-91 surah Al-An'am yang berbicara tentang kaum musyrik: Ma qadaru Allaha haqqa qadrihi idz qalu ma anzala Allahu
'ala basyarin min syay'i (Mereka itu tidak memuliakan Allah sebagaimana kemuliaan yang semestinya, tatkala mereka berkata bahwa Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia).

Sempit. Malam tersebut adalah malam yang sempit, karena banyaknya malaikat yang turun ke bumi, seperti yang ditegaskan dalam surah Al-Qadr: Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Kata qadr yang berarti sempit digunakan oleh Al-Quran antara lain dalam ayat ke-26 surah Al-Ra'd: Allah yabsuthu
al-rizqa liman yasya' wa yaqdiru (Allah melapangkan rezeki bagi yang dikehendaki dan
mempersempitnya [bagi yang dikehendaki-Nya]).

Ketiga arti tersebut, pada hakikatnya, dapat menjadi benar, karena bukankah malam tersebut adalah malam mulia, yang bila dapat diraih maka ia menetapkan masa depan manusia, dan bahwa pada malam itu malaikat-malaikat turun ke bumi membawa kedamaian dan ketenangan? Namun demikian, sebelum melanjutkan pembahasan tentang hakikat dan hikmah Laylat Al-Qadr, terlebih dahulu akan dijawab pertanyaan tentang kehadirannya, apakah setiap tahun atau hanya sekali, yakni ketika turunnya Al-Quran lima belas abad yang lalu.

Dari Al-Quran kita menemukan penjelasan bahwa wahyu-wahyu Allah itu diturunkan pada Laylat Al-Qadr, tetapi karena umat sepakat mempercayai bahwa Al-Quran telah sempurna dan tidak ada lagi wahyu setelah wafatnya Nabi Muhammad saw., maka atas dasar logika itu, ada yang berpendapat bahwa malam mulia itu sudah tidak akan hadir lagi. Kemuliaan yang diperoleh oleh
malam tersebut adalah karena ia terpilih menjadi waktu turunnya Al-Quran. Pakar hadis, Ibnu Hajar, menyebutkan satu riwayat dari penganut paham di atas yang menyatakan bahwa Nabi saw. pernah bersabda bahwa malam qadr sudah tidak akan datang lagi.

Pendapat tersebut ditolak oleh mayoritas ulama dengan berpegang pada teks ayat Al-Quran serta sekian banyak teks hadis yang menunjukkan bahwa Laylat Al-Qadr terjadi pada setiap bulan Ramadha.n. Bahkan, Rasul saw. menganjurkan umatnya untuk mempersiapkan jiwa menyambut malam mulia itu secara khusus pada malam-malam gazal setelah berlalu dua puluh hari Ramadhan.

Memang, turunnya Al-Quran lima belas abad yang lalu terjadi pada malam Laylat Al-Qadr, tetapi itu bukan berarti bahwa malam mulia itu hadir pada saat itu saja. Ini juga berarti bahwa kemuliaannya bukan hanya disebabkan karena Al-Quran ketika itu turun, tetapi karena adanya faktor intern pada malam itu sendiri. Pendapat tersebut dikuatkan juga dengan penggunaan bentuk kata kerja mudhari' (present tense) pada ayat, Tanazzal al-mala'ikat wa al-ruh,
kata Tanazzal adalah bentuk yang mengandung arti kesinambungan, atau terjadinya sesuatu pada masa kini dan masa datang.

Nah, apakah bila ia hadir, ia akan menemui setiap orang yang terjaga (tidak tidur) pada malam
kehadirannya itu? Tidak sedikit umat Islam yang menduganya demikian. Namun, dugaan
itu --hemat penulis-- keliru, karena itu dapat berarti bahwa yang memperoleh keistimewaan adalah yang terjaga baik untuk menyambutnya maupun tidak. Di sisi lain, ini berarti bahwa kehadirannya ditandai oleh hal-hal yang bersifat fisik material, sedangkan riwayat-riwayat demikian tidak dapat dipertanggungjawabkan kesahihannya. Dan seandainya, sekali lagi seandainya, ada tanda-tanda fisik material, maka itu pun tidak akan ditemui oleh
orang-orang yang tidak mempersiapkan diri dan menyucikan jiwa guna menyambutnya. Air dan minyak tidak mungkin akan menyatu dan bertemu.
Kebaikan dan kemuliaan yang dihadirkan oleh Laylat Al-Qadr tidak mungkin akan diraih kecuali oleh orang-orang tertentu saja. Tamu agung yang berkunjung ke satu tempat, tidak akan datang menemui setiap orang di lokasi itu, walaupun setiap orang di tempat itu mendambakannya. Bukankah ada orang yang sangat rindu atas kedatangan kekasih, namun ternyata sang kekasih
tidak sudi mampir menemuinya? Demikian juga dengan Laylat Al-Qadr. Itu sebabnya bulan Ramadhan menjadi bulan kehadirannya, karena bulan ini adalah bulan penyucian jiwa, dan itu pula sebabnya sehingga ia diduga oleh Rasul datang pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Karena, ketika itu, diharapkan jiwa manusia yang berpuasa selama dua puluh hari sebelumnya telah mencapai satu tingkat kesadaran dan kesucian yang memungkinkan malam mulia itu berkenan
mampir menemuinya. Dan itu pula sebabnya Rasul saw. menganjurkan sekaligus mempraktikkan i'tikaf (berdiam diri dan merenung di masjid) pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan.

Apabila jiwa telah siap, kesadaran telah mulai bersemi, dan Laylat Al-Qadr datang menemui seseorang,ketika itu malam kehadirannya menjadi saat qadr --dalam arti, saat menentukan bagi perjalanan sejarah hidupnya pada masa-masa mendatang. Saat itu, bagi yang bersangkutan adalah saat titik tolak guna meraih kemuliaan dan kejayaan hidup di dunia dan di akhirat kelak, dan sejak saat itu, malaikat akan turun guna menyertai dan membimbingnya menuju kebaikan sampai
terbit fajar kehidupannya yang baru kelak di hari kemudian. (Perhatikan kembali makna-makna Al-Qadr yang dikemukakan di atas!).

Syaikh Muhammad 'Abduh pernah menjelaskan pandangan Imam Al-Ghazali tentang kehadiran malaikat dalam diri manusia. Abduh memberikan ilustrasi berikut:

"Setiap orang dapat merasakan bahwa dalam jiwanya ada dua macam bisikan, yaitu bisikan baik dan buruk. Manusia seringkali merasakan pertarungan antara keduanya, seakan apa yang terlintas dalam pikirannya ketika itu sedang diajukan ke satu sidang pengadilan. Yang ini menerima dan yang itu menolak, atau yang ini berkata lakukan dan yang itu mencegah, demikian halnya sampai pada akhirnya sidang memutuskan sesuatu.

Yang membisikkan kebaikan adalah malaikat, sedangkan yang membisikkan keburukan adalah setan atau paling tidak penyebab adanya bisikan tersebut adalah malaikat atau setan. Nah, turunnya malaikat, pada malam Laylat Al-Qadr, menemui orang yang mempersiapkan diri menyambutnya berarti bahwa ia akan selalu disertai oleh malaikat sehingga jiwanya selalu terdorong untuk melakukan kebaikan-kebaikan.
Jiwanya akan selalu merasakan salam (rasa aman dan damai) yang tidak terbatas sampai fajar malam Laylat Al-Qadr, tetapi sampai akhir hayat menuju fajar kehidupan baru di hari kemudian
kelak."

Di atas telah dikemukakan bahwa Nabi saw., menganjurkan sambil mengamalkan i 'tikaf di masjid
dalam rangka perenungan dan penyucian jiwa. Masjid adalah tempat suci, tempat segala aktivitas kebajikan bermula. Di masjid, seseorang diharapkan merenung tentang diri dan masyarakatnya. Juga, di masjid, seseorang dapat menghindar dari hiruk-pikuk yang menyesakkan jiwa dan pikiran guna memperoleh tambahan pengetahuan dan pengayaan iman. Itulah sebabnya ketika melakukan i'tikaf, seseorang dianjurkan untuk memperbanyak doa dan bacaan Al-Quran, atau bahkan bacaan-bacaan lain yang dapat memperkaya iman dan ketakwaan.

Malam Al-Qadr, yang ditemui atau yang menemui Nabi pertama kali adalah ketika beliau menyendiri di Gua Hira, merenung tentang diri beliau dan masyarakat. Ketika jiwa beliau telah mencapai kesuciannya, turunlah Al-Ruh (Jibril) membawa ajaran dan membimbing beliau sehingga terjadilah perubahan total dalam perjalanan hidup beliau bahkan perjalanan hidup umat manusia.

Dalam rangka menyambut kehadiran Laylat Al-Qadr itu yang beliau ajarkan kepada umatnya, antara lain, adalah melakukan i'tikaf. Walaupun i'tikaf dapat dilakukan kapan saja dan dalam waktu berapa lama saja --bahkan dalam pandangan Imam Syafi'i, walaupun hanya sesaat selama dibarengi oleh niat yang suci-- namun, Nabi saw. selalu melakukannya pada sepuluh hari dan malam terakhir bulan puasa. Di sanalah beliau bertadarus dan merenung sambil berdoa.

Salah satu doa yang paling sering beliau baca dan hayati maknanya adalah: Rabbana atina fi al-dunya hasanah, wa fi al-akhirah hasanah wa qina 'adzab al-nar (Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami kebajikan di dunia dan kebajikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka). Doa ini bukan sekadar berarti permohonan untuk memperoleh
kebajikan dunia dan kebajikan akhirat, tetapi lebih-lebih lagi bertujuan untuk memantapkan langkah dalam berupaya meraih kebajikan yang dimaksud, karena doa mengandung arti permohonan yang disertai usaha. Permohonan itu juga berarti upaya untuk menjadikan kebajikan dan kebahagiaan yang diperoleh dalam kehidupan dunia ini, tidak hanya terbatas dampaknya di dunia, tetapi berlanjut hingga hari kemudian kelak.

Kalau yang demikian itu diraih oleh manusia, maka jelaslah ia telah memperoleh kemuliaan dunia dan akhirat. Karena itu, tidak heran jika kita mendengar jawaban Rasul saw. yang menunjuk kepada doa tersebut, ketika istri beliau 'A'isyah menanyakan doa apa yang harus dibaca jika ia merasakan kehadiran Laylat-Al-Qadr?

MEMBUMIKAN AL-QURAN
Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat Dr. M. Quraish Shihab
Penerbit Mizan, Cetakan 13, Rajab 1417/November 1996



Kenapa Harus Islam dan Hanya Islam!?


-ISLAM ibarat makanan diatas meja hindangan.-

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Ayuhal Mu’minun Itaqullah Usi kum wa iya ya bi taqwallah fakat fazal mu’takun.
Assalamualaikum Warahmatullahitaala Wabarakatuh dan Salam Sejahtera. Di sini dengan penuh kesyukuran kehadrat Illahi dan berterima kasih kepada semua, kerana mengizinkan rencana ini bercakap dengan minda anda. Juga dengan penuh rasa sedih, pilu dan dukacita di atas kesilapan serta kekurangan yang mungkin saya lakukan dalam menyampaikan pengiktibaran ini. Wallahualam.
******************************************************

Alhamdulillahirobilalamin, Wa solah tu was salam muala asyrofil ambia’ iwal mursalin saidina wa maulana Muhamaddin wa ala alihi wa asobihi Mujahiddin Nathokhirin, Ama ba'du…
Saudara-saudara kaum Muslimin yang seiman dan sekeyakinan yang berbahagia. Pada suatu hari, seketika sedang berkumpul dengan para sahabat, Rasulullah memberikan peringatan, baginda bersabda:

"yu shi ku anta da'a alaikumul umamu, kama ta'da al akala atu kos atiha"

Pada suatu saat nanti, akan datang ditengah-tengah kamu, wahai umat Islam, dimana orang-orang lain di sekeliling kamu akan bersatu mengerubungimu, seperti bersatunya orang-orang mengerubungi makanan diatas meja hidangan. Akan datang satu saat nanti dimana kondisimu akan dikepung sedemikian rupa. Yang barat mahu menerkam, yang timur mahu menghentam, yang selatan mahu menginjak-injak dan yang utara pun akan menjelajah. Kondisimu ibarat makanan diatas meja hindangan. Sebahagian sahabat merasa hairan dan terkejut, lalu mereka bertanya:

“amin kilatil nahnu yau ma izin, Ya Rasulullah"

Apakah jumlah kami sedikit ya Rasul, kami sampai dikepung sedemikian rupa?

Baginda menjawab: “bal antum yau ma izin kassir"

Sama sekali tidak. Kamu tidak sedikit pada saat itu, bahkan jumlah mu sangat banyak, kamu adalah majoriti.

“wala kin nakum ghusa unka ghusa is sa il"

Tetapi keadaanmu saat itu persis seperti buih dilautan. Banyak tetapi berserakan, banyak tetapi tidak mempunyai daya dan kekuatan, banyak tetapi dipermainkan gelombang lautan. Dihempas ketepian pantai tanpa punya makna dan erti. Kondisimu pada saat itu yang merupakan quatiti yang tanpa qualiti. Sehinggakan orang lain mudah saja mengepungmu, aqidah mu didangkalkan dibanjiri dengan peradaban dan kebudayaan yang menjauhkan diri dari agama. Dari segi maksiat dan mungkaran seluruhnya mengepung sampai kita melepaskan nilai-nilai Islam kita ini. Dan celakanya sambung baginda:

"wal yan zi anta fil qulu bi a'duwikum wal maha batan min kum"

Akan dicabut kehebatanmu dimata musuh-musuhmu. Sehigga pada saat seperti itu, orang lain memandangmu umat Islam ini lemah saja, remeh saja, tidak ada apa-apanya, sudahlah, pokoknya umat Islam ini boleh dipermainkan saja. Umat Islam mudah, umat Islam kecil lantas mereka tiada kemampuan dalam mempertahankan KeIslamannya.
Mengapakah Rasul memberikan peringatan ini? Antaranya adalah atas dasar tarbiyah dan pembersihan jiwa yang diumpamakan seperti siraman bagi pokok yang disemai atau ditanam. Jika pokok tidak dibajai dan disirami sentiasa, maka ia akan layu dan kering. la akan terus hidup subur jika dibajai dan disirami. Demikianiah manusia. Hidup sebenarnya bagi individu atau jemaah adalah kerana adanya iman. Hidup manusia sebenarnya adalah hidup hatinya dengan keimanan bukan hidup jasad yang akan fana. Iman di dalam hati itulah yang akan melahirkan kehidupan yang bermakna. Hati perlu digilap seialu kerana ia mungkin berkarat.

Rasuluilah SAW bersabda yang bermaksud:

"Sesunggubnya hati manusia itu berkarat seperti berkaratnya besi.

Sababat-sababat bertanya: Apakah pengilapnya wahai Rasulullah?.

Rasulullah menerangkan: membaca Al Quran dan mengingati maut (mati).' (HR Al Baibaqi)
Iman yang berada dalam iiwa manusia sentiasa terdedah kepada kelunturan dan kelemahan kerana dijangkiti oleh berbagai penyakit seperti kesibukan urusan duniawi, dan lain-lain. Oleh itu kita perlu banyak memohon pertolongan kepada Allah SWT dengan sentiasa memperbaharui keimanan kita.
Sabda Rasuluilah SAW:

"Sesungguhnya iman itu boleb lusuh seperti lusuhnya pakaian, maka bendaklah kamu memobon doa kepada Allah SWT supaya diperbaharui keimanan itu di dalam jiwa kamu.' (HR Al Hakim dan At Tabrani)
Justeru itu, peringatan akan hadith yang awal tadi, memaksa umat Islam senantiasa dalam keadaaan berjaga-jaga menghadapi hari itu yang mungkin sudah pun berputik dikala ini. Menjadikan Islam sebagai satu alternatif penyelesaian kepada masalah umat manusia mestilah lahir daripada keyakinan yang berteraskan keimanan, bukan disebabkan kegagalan sistem-sistem lain. Islam hanya boleh memainkan peranannya untuk menyelesaikan masalah manusia apabila ianya diambil secara syumul dalam bentuk konkrit. Oleh itu setiap pekerja (amilin) Islam mestilah dibentuk dan diproses berteraskan aqidah tauhid yang bersumberkan daripada Al Quran dan Sunnah Rasulullah SAW. Islam tidak akan dapat dibangunkan tanpa rijal (pahlawan). Rijal tidak dilahirkan tanpa melalui proses Tarbiyah. Dan Tarbiyah tidak akan memberi sebarang kesan tanpa penglibatan dan penghayatan yang bersungguh-sungguh daripada setiap individu.

Adalah menjadi harapan dan keyakinan setiap muslim bahawa masa depan adalah milik Islam. Dunia Islam pada hari ini sedang menghadapi berbagai-bagai permasalahan yang mengongkongi segenap kehidupan orang-orang Islam. Permasalahan ini berpunca daripada kejahilan serta kelalaian ummat Islam sendiri terhadap agama yang mereka anuti itu. Akibat daripada itu maka timbullah berbagai-bagai fahaman assabiyyah dan sekular. Kepercayaan ini telah merosakkan asas aqidah ummat Islam sehinggalah mereka berpecah belah dan berhasad dengki di antara satu sama lain.

Keadaan ini telah memberi ruang kepada musuh-musuh Islam untuk menghancurkan atau melemahkan mereka semua sehingga mereka sudah tidak terdaya lagi untuk bangun menyuarakan kebenaran Islam. Kekuatan mereka menjadi lemah dan musuh-musuh Islam datang dari segenap penjuru menyerang mereka dan melakukan segala bentuk kekejaman terhadap umat Islam. Islam tidak merelakan semua ini terjadi dan melihat kaum muslimin menyerah kalah dan tunduk berlutut di hadapan musuh-musuh Allah dalam keadaan yang terhina dan memalukan.
Alangkah ironi nya, alangkah menyedihkan, memilukan dan sekaligus memalukan. Umat yang majoriti ini dipermainkan oleh yang minoriti. Umat yang terbesar, terbanyak, bahkan kononnya menurut sesetengah catatan mencecah sampai melebihi 50%, tapi dipermainkan oleh mereka kelompok-kelompok yang lebih kecil ini.

Sabda Rasul seterusnya: “wal yak zifan nafi qulu bikumul wahan."

Pada saat itu, pada hatimu dicampakkanlah penyakit wahan.

Sahabat kemudian bertanya: “wa mal wahnu ya Rasulullah."

Apakah penyakit wahan itu, ya Rasul.

Baginda menjawab: “hubut dunia wakarohiyatul maut."

Penyakit wahan itu, tidak lain, adalah "hubut dunia wakarohiyatul maut," yakni terlalu cintakan kepada dunia dan terlalu takutkan kepada mati. Materialistik, dan takut risiko. Dua penyakit inilah yang menyebabkan, walaupun umat ini majoriti, tetapi dipermainkan oleh yang minoriti. Walaupun ia golongan terbesar, tapi nasibnya sama seperti makanan di meja makan, dari segala macam penjuru, mahu menghentam kita.

Saudara-saudara kaum muslimin yang berbahagia, ini merupakan analisa-sosial, bahawa pada satu saat nanti, akan terjadi ditengah-tengah umat, di mana kita dihentam dan diserbu dari segala macam penjuru. Aqidah didangkalkan, peradaban dan kebudayaan dirosak, makanan dan minuman diracuni, pakaian ditelanjangi dan lain, sebagainya. Sehinggakan, kita, melepaskan nilai-nilai iman dan nilai Islam yang kita cintai ini. Kondisi sosial ini, suatu saat nati akan datang kepada kita. Demikian analisa dan peringatan dari Rasulullah S.A.W.

Marilah sekarang kita melihat; adalah benar dizaman sekarang, kita, Insyallah, akan menghampiri peperangan, yang mungkin tidak serupa seperti perang yang dialami oleh Rasul dan para sahabatnya. Tetapi, sesungguhnya perang yang kita hadapi di zaman sekarang ini, tidak kalah hebatnya, dengan perang Badar, tidak kurang dahsyatnya, dengan perang Uhud dan tidak kurang ngerinya, dengan perang Khandak. Hanya saja, yang kita hadapi sekarang ini, bukan sekadar jet-jet pemusnah stealh, B52, peluru perpandu patriot, mother of all bomb dan sebagainya. Yang kita hadapi sekarang ini, adalah juga perang aqidah, perang ideologi, perang mempertahankan keyakinan. Yang kalau kita kalah sekarang, kita masih lagi, Insyallah beragama. Tetapi, anak kita, cucu kita, generasi yang akan hidup lima, sepuluh, dua-puluh, tiga-puluh tahun yang akan datang………Wallahualam-bi-sawaf !

Islam, saudara-saudaraku, tidak mungkin hilang dari dunia.Tetapi, tidak mustahil Islam gulung tikar dari desa kita, tidak mustahil ! Islam gulung tikar dari kampung dan kota kita, malah negara kita. Jikalau tidak menjaganya, jikalau kita tidak memeliharanya, bahkan jikalau tidak mewariskan kepada anak-anak kita, generasi yang akan datang.
Marilah kita mengingat sejenak, bagaimana, Islam di Spanyol yang pernah jaya, pernah mewarnai daratan Eropah dan yang sekarang ini hanya tinggal ceritanya saja.

Ini pernah diperingatkan oleh baginda Rasul dalam satu Hadis:

"sayati ala umati zamanun, ya lab kol Islam ala ismun, wala minal Quran ila rosmun."

Akan datang satu masa ditengah-tengah umat ku, dimana Islam ada, tetapi, hanya tinggal namanya saja. Dan Quran pun ada, tetapi, sekadar cuma tinggal tulisan nya saja.
Apabila kita tidak mewariskan ini kepada generasi yang akan datang, maka, serbuan-serbuan dari segenap macam penjuru, dari hari ke hari, semakin kita rasakan kehebatannya. Tidak mustahil sejarah Spanyol, akan terjadi dan berulang kembali.

Orang Spanyol, kalau mereka bercerita kepada anak mereka..., mereka akan bercerita;

Ayah : Nak, disini dulu ada Mesjid.

Anak : Bila Ayah?

Ayah : Dulu-dulu.. sangat’. Banyak orang Islam. Dan kalau hari Jumaat, ra..mai orang solat.
Anak : Bila tuh, Ayah?

Ayah : Dulu-duluuuuu.. sekali! ………Sekarang, sekarang nih, sekadar tinggal.. ceritanya saja.

Bukankah sesuatu yang sangat tidak mustahil apabila kita tidak menjaga dan mewariskan Islam ini kepada generasi yang akan datang. Maka, serbuan-serbuan akan mendatangkan hasil yang dingini oleh para penyerbu itu tadi.
Kita sudah jadi umat yang majoriti, tetapi, umat yang majoriti ini, menurut Rasul, dikepung sedemikian rupa. Aqidahnya didangkalkan, peradaban dan kebudayaannya ditekan sedemikian rupa, kehidupan sosialnya dibuat individualis. Kemudian, dari segi pergaulan, pakaian, makanan, minuman dan sebagainya, diracuni. Sampai kita, tidak berpegang teguh kepada Islam. Dan dikala itu, akan hilang kehebatan umat ini dimata musuh-musuhnya. Orang lain memandang kita ringan saja, mudah saja, satu umat yang telah kehilangan wibawa. Padahal, konon khabarnya, kita ini umat majoriti.m Terlalu mudah bagi mereka untuk mengkotak-katikkan kita. Dan dikala itu dihati kita bermaharajalela penyakit wahan.

Apakah penyakit Wahan itu?

Pertama, "hubut dunia", terlalu cinta akan dunia. Terlalu cinta kepada dunia, ynag menyebabkan kita lupa. Lupa, akan tanggungjawab dan kewajipan, lupa meneruskan dan mewariskan Islam ke generasi akan datang. Kita, berlumba-lumba dan terus berlumba, hanya sekadar mengejar dunia dan seluruh isinya. Baik ianya bernama material, baik ianya bernama sexual, baik ianya bernama pangkat, jawatan dan kedudukkan.
Berlumba-lumba kita didalamnya, sampai tercampaklah penyakit "hubut dunia", didalam hati ini. Berurat dan berakar dunia itu, sulit dan berat lah kita berpisah daripadanya. Akibatnya, kemahuaan untuk berbuat, melakukan sesuatu itu demi, dan atas dasar agama sangat sulit terwujud didalam kehidupan ini.

Yang kedua, "karohiyatul maut", terlalu takut kepada mati; baik mati ajal, baik mati usahanya, baik mati 'career' nya, baik mati pangkat dan jawatannya. Sehingga dengan demikian, implikasinya, maka jatuhlah kita menjadi umat yang kehilangan wibawa dimata orang lain.
Saudara-saudara kaum Muslimin Rahimahkumullah, Kita katakan tadi, perang yang kita hadapi dizaman sekarang ini, adalah perang aqidah. Perang yang ditambah lagi dengan banjirnya maksiat dan mungkaran. Yang ditengah-tengah itu, disamping berkewajipan menjaga anak-anak kita, diri dan keluarga. Kita pun juga berkewajipan menjaga kedaulatan tanahair yang kita cintai.
Allah S.W.T. juga berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman, sama sahaja untuk mereka, baik kamu beri peringatan atau tidak beri peringatan, mereka tidak akan beriman."(Surah Al-Baqarah ayat 6)

Ingatlah apabila timbul perselisihan di muka bumi ini, pulangkanlah ia pada Robbul Jalil, rujuklah hanya kepada Islam. Islam adalah agama yang lengkap dan tertinggi, tiada satu agama pun yang dapat menandingi kesempurnaan Islam. Mengapa kita masih berdegil menjauhkan diri daripada Nur kebenaran ini? Adakah, "The Way of Life" atau undang-undang serta peradaban lain, yang lebih syumul, dari Islam itu sendiri?

Kembalilah kita pada Allah, akhirat jua yang kekal selamanya. Allah masih menerima taubat kita selagi nyawa belum sampai ke halkum. Firman Allah: "Qulu nafsin za ika tul maut" ...setiap yang bernyawa pasti menemui ajal. Kata seorang Ulama lagi, “One step that you take towards Allah, One thousand steps he takes towards you".

Akhir kalam, semoga Allah selamatkan kita dan generasi kita dari ditimpa dari azab yang amat pedih. Terima Kasih atas segala perhatian dan mohon maaf diatas segala kekurangan, "Usikum wa iyaya bi taqwallah, Wassalmualakum waroh matullahi wabarohkatuh".
Qur'an Says: "and (the unbelievers) plotted and planned, and God too planned, and the best of planners is God." (SIII-54) 
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ 

kunjungi pula :

www.embunis.blogspot.com 

2 Agu 2012

Wanita yang Dimurkai Allah


Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,



PERKARA YG AMAT DIBENCI ALLAH PADA SEORANG WANITA
 
1.Kepada wanita yang tidak menutup aurat Allah berfirman," Hiduplah dengan  apa yang kau suka."
2.Allah melaknati wanita yang sengaja mendedahkan auratnya kepada lelaki yang bukan muhrim.
3.Perempuan yg memakai kain yang nipis & jarang untuk menarik perhatian lelaki bukan muhrim atau memakai segala yg mendatangkan keghairahan kepada  orang lain maka dia tidak akan mencium bau syurga.
4.Wanita yg jahat lebih buruk dari 1000 org lelaki yg jahat.
 
Pengorbanan seorang wanita amat dihargai oleh Allah & Rasulnya. Cuma kita kurang mengetahui kelebihan yg dikurniakan kpd kita semua. Sehinggakan hari ini manusia Islam mencari sesuatu selain dari agama krn merasa pengorbanan mereka tidak dihargai. Dan mereka turut melaungkan persamaan hak
seperti di barat. Ini semua bukanlah salah mereka...tetapi kitalah yg bersalah kerana kita lupa bahawa kita ini umat yg dianugerah kan dgn tugas kenabian. Memberi harapan & bimbingan kpd manusia...
 
WANITA YG DIMURKAI OLEH ALLLAH
 
Sebagaimana Allah suka dgn wanita yg yg solehah, Allah juga sgt murka kpd beberapa jenis wanita. Oleh itu sgt perlu bagi kita mengetahui perkara yg boleh menyebabkan kebenciannya supaya kita terhindar dr kemurkaannya.  Kemurkaan Allah pada hari kiamat sgt dahsyat sehinggakan nabi2 pun sgt takut. Bahkan Nabi  Ibrahim pun lupa bahawa dia mempunyai anak yg bernama Nabi Ismail krn  ketakutan yg amat sangat. Abu Zar r.a meriwayatkan bahawa Nabi S.A.W.  bersabda: -

"Seorang wanita yg berkata kpd suaminya,"semoga engkau mendapat kutukan  Allah" maka dia dikutuk oleh Allah dr atas langit yg ke7 & mengutuk pula  segala sesuatu yg dicipta oleh Allah kecuali 2 jenis makhluk iaitu manusia & jin."

Ab.Rahman bin Auf meriwayatkan bahawa Nabi s.a.w bersabda: "Seorang yg membuat susah kpd suaminya dlm hal belanja atau membebani sesuatu yg suaminya tidak mampu maka Allah tidak akan menerima amalannya yg wajib & sunnatnya."
 
Abdullah bin Umar r.a meriwayatkan bahawa Nabi S.A.W. bersabda: -

"Kalau seandainya apa yg ada dibumi ini merupakan emas & perak serta dibawa oleh seorang wanita ke rumah suaminya. Kemudian pada suatu hari dia terlontar kata2 angkuh,"engkau ini siapa? Semua harta ini milikku & engkau tidak punya harta apa pun." Maka hapuslah semua amal kebaikannya walaupun banyak.
 
Nabi S.A.W. adalah seorang yg sangat kasih pada ummatnya & terlalu menginginkan keselamatan bagi kita dr azab Allah. Beliau menghadapi segala rupa penderitaan, kesakitan, keletihan & tekanan. Begitu juga air mata & darah baginda telah mengalir semata-mata krn kasih-sayangnya terhadap kita.

Maka lebih-lebih lagi kita sendirilah yg wajar berusaha utk menyelamatkan diri kita, keluarga kita & seluruh ummat baginda. Sebagai penutup ikutilah kisah seterusnya ini sebagai iktibar bagi kita.
 
Ali r.a. meriwayatkan sebagai berikut: "Saya bersama Fatimah berkunjung kerumah Rasulullah S.A.W. & kami temui baginda sedang menangis. Kami bertanya kpd beliau,"mengapa tuan menangis wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "pada malam aku di Isra'kan kelangit, daku melihat org sedang mengalami berbagai penyeksaan...maka bila teringatkan mereka aku menangis."

Saya bertanya lagi,"wahai Rasulullah apakah yg tuan lihat?"
Beliau bersabda: -
 
1.Wanita yg digantung dgn rambutnya & otak kepalanya mendidih.
2.Wanita yg digantung dgn lidahnya serta tangannya dipaut dr punggungnya sedangkan aspal yg mendidih dari neraka dituangkan ke kerongkongnya.
3.Wanita yg digantung dgn buah dadanya dari balik punggungnya sedangkan air getah kayu zakum dituang ke kerongkongnya.
4.Wanita yg digantung , diikat kedua kaki & tgnnya ke arah ubun2 kepalanya serta dibelit dibawah kekuasaan ular & kala jengking.
5.Wanita yg memakan badannya sendiri serta dibawahnya tampak api yg menyala-nyala dgn hebatnya.
6.Wanita yg memotong badannya sendiri dgn gunting dr neraka.
7.Wanita yg bermuka hitam & memakan ususnya sendiri.
8.Wanita yg tuli, buta & bisu dlm peti neraka sedang darahnya mengalir dari rongga badannya (hidung,telinga,mulut) & badannya membusuk akibat  penyakit kulit dan lepra.
9.Wanita yg berkepala spt kepala babi & keldai yg mendapat berjuta jenis siksaan.
 
Maka berdirilah Fatimah seraya berkata,"Wahai ayahku, cahaya mata kesayanganku... ceritakanlah kpd ku apakah amal perbuatan wanita2 itu."  Rasulullah S.A.W. bersabda, "Wahai Fatimah, adapun tentang : -
 
1.Wanita yg digantung dgn rambutnya krn dia tidak menjaga rambutnya (di jilbab) dikalangan lelaki.
2.Wanita yg digantung dgn lidahnya krn dia menyakiti hati suaminya dgn  kata
3.Kemudian Nabi S.A.W. bersabda: "Tidak seorang wanita yg menyakiti hati suaminya melalui kata2nya kecuali Allah akan membuatnya mulutnya kelak dihari kiamat,selebar 70 zira' kemudian akan mengikatnya dibelakang lehernya.
4.Adapun wanita yg digantung dgn buah dadanya krn dia menyusui anak org lain tanpa izin suaminya.
5.Adapun wanita yg diikat dgn kaki & tangannya itu krn dia keluar rumah tanpa izin suaminya, tidak mandi wajib dr haidh & nifas.
6.Adapun wanita yg memakan badannya sendiri krn suka bersolek utk dilihat lelaki lain serta suka membicarakan keaiban org.
7.Adapun wanita yg memotong badannya sendiri dgn gunting dari neraka kerana dia suka menonjolkan diri (ingin terkenal) dikalangan org yg banyak dgn maksud supaya org melihat perhiasannya dan setiap org jatuh cinta padanya krn melihat perhisannya.
8.Adapun wanita yg diikat kedua kaki & tangannya sampai ke ubun2nya & dibelit oleh ular & kala jengking krn dia mampu mengerjakan solat & puasa.Tetapi dia tidak mahu berwudhuk & tidak solat serta tidak mahu mandi wajib.
9.Adapun wanita yg kepalanya spt kepala babi & badannya spt kaldai krn diasuka mengadu-domba (melaga-lagakan org) serta berdusta.
10.Adapun wanita yg berbentuk spt anjing krn dia ahli fitnah serta suka marah-marah pada suaminya.

Dan ada diantara isteri nabi2 yg mati dlm keadaan tidak beriman kerana mempunyai sifat yang buruk. Walaupun mereka adalah isteri manusia yang terbaik dizaman itu. Diantara sifat buruk mereka: -
 
1.Isteri Nabi Nuh suka mengejek & mengutuk suaminya.
2.Isteri Nabi Lut suka bertandang ke rumah org.
 
Semoga Allah beri kita kekuatan untuk mengamalkan kebaikan dan meninggalkan keburukan. Kalau kita tidak berasa takut atau rasa perlu berubah...maka kita kena khuatir .Takut kita tergolong dlm mrk yg tidak diberi petunjuk oleh Allah. Nauzubillahi min zalik.
 
Wassalam.
 
Hiasilah Diri Kita Dengan KEIMANAN Bukan Dengan KEEGOAN.